Seni Rupa

September 9, 2008

Tembang Hidup “Media Baru”

Senirupa media baru memang turunan ― dan dari generasi paling mutakhir ― modernitas. Ketimbang mengarahkan diri pada kenyataan imajiner di luar dunia, ia menghadapkan diri pada dunia empirik ini, pada detik-detik yang lewat yang langsung dialami oleh tubuh manusia. Senirupa media baru berharga bukan hanya karena ia menjelajahi piranti-piranti teknologis melampaui wilayah instrumental yang semula dibayangkan oleh para penemu piranti itu. Seni ini berharga terutama karena ia bisa menyingkap berbagai kemungkinan kaitan antara dunia dan manusia ― juga antara manusia dengan manusia lain ― yang tak dapat disingkap oleh senirupa konvensional.

song-of-life-02

Setidaknya demikianlah yang seharusnya terjadi pada karya yang menyebut dirinya bagian senirupa media baru. Jika karya dengan media baru ini hanya mencapai sesuatu yang juga bisa ― bahkan sudah ― diraih oleh media konvensional, maka karya tersebut tak punya raison d’etre sebagai bagian senirupa media baru. Apalagi jika karya itu hanya mereproduksi ­― dan tak mempersoalkan secara radikal ― pengertian tua tentang dunia dan manusia, dan berbagai hal yang berkait dengan keduanya.

Pameran tunggal Fendry Ekel di Galeri Lontar yang berlangsung dari 20 Desember 2004 hingga 14 Januari 2005, disebut di undangan sebagai Pameran New Media Art. Di pameran bertajuk F.E.A.R ini memang bisa ditemukan karya yang menggunakan perangkat elektronik video. Selain itu ada juga karya yang ditata lewat penganyaman kertas koran, foto dengan kertas berefleksi, woven image (seri) dan satu karya instalasi.

Secara keseluruhan, eksplorasi atas medium baru dalam pameran ini belum mengejutkan betul. Kerja video di pameran ini sama saja dengan kerja video di rumah-rumah: menyajikan citra yang sudah disimpan di dalam cakram DVD/VCD. Jika ada yang menarik dari pameran ini, maka itu adalah tembang berjudul “Song of Life” yang dinyanyikan oleh kelompok “Suara Minoritas.” Tembang ini, dan lirik lagu Ian Brown yang memain-mainkan kata fear sehingga mengkhianati makna tradisional kata itu, menghadirkan sebuah pandangan atas dunia dan hidup yang layak dicerna. Pandangan itu sendiri tidak baru: dalam sejarah pemikiran ia antara lain dikenal sebagai pandangan Leibnizian. Namun demikian, Fendry Ekel dan “Suara Minoritas” menghadirkan semangat Leibnizian itu dengan cara yang membekas di mana isi dan bentuk tampak menyatu dengan cukup baik.

Seni rupa modern indonesia selama ini didominasi oleh karya yang mengusung pandangan politis yang muram tentang dunia. Begitu dominannya pandangan ini, sehingga ia seakan-akan menjadi “Kebenaran.” Fendry Ekel, setidaknya dalam pameran ini, adalah bagian dari mereka yang mencoba melihat dunia ini dengan agak lain. Dunia dan hidup di sini tak dilihat dari lensa politik, tapi dari pandangan yang nyaris ontologis. Fendry yang lahir di Jakarta 1971 ini juga tidak melihat dunia ini dengan suram: sebuah dunia korup yang layak untuk diprotes, setidaknya dicemooh. Bagi Fendry, dunia dan hidup ini adalah musik, adalah permainan, adalah anugerah.

Seakan tak cukup dengan hanya dendang riang dan asyik, Fendry masih mencoba merayakan lebih jauh anugerah dunia dan hidup ini dengan menggantung 8 lembar kain. Ke-8 lembar kain monokromatik dengan warna berbeda-beda itu, berisi notasi balok buat masing-masing instrumen musik yang dimainkan gerombolan “Suara Minoritas.” Selebrasi atas hidup dan dunia ― termasuk hidup dan dunia yang sudah hilang ― terasa juga jejaknya pada karya-karya yang lain.

song-of-life-01

Kita memang belum bisa melihat pencapaian mencekam media baru dalam pameran tunggal Fendry Ekel ini. Tapi setidaknya, dari pameran ini, kita bisa bersenandung lagi bahwa garis langit bisa berubah, siluet gunung dan bukit boleh hilang diganti geometri pencakar awan dan atap-atap berkundai antena, tetapi dunia ini adalah dunia yang dulu juga: dunia yang kita bisa akrab dengannya.***

Nirwan Ahmad Arsuka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: