Antropologi

September 9, 2008

Lapis Waktu

Pengantar

Setiap kali membaca buku sejarah dan kebudayaan yang ditulis dengan baik, setiap kali pula kita merasa berhadapan dengan sebentang peta yang digambar dengan apik. Yang ditemui di dalam karya itu memang bukan melulu lembaran peta ruang, dengan bidang, jarak, koordinat dan nama-nama tempatnya. Yang dihadapi di sana lebih berupa peta waktu, yang bergerak menjawab—sekaligus menciptakan—berbagai perubahan. Dan waktu yang dipetakan di sana adalah waktu yang silam, waktu yang dulunya ditakdirkan terkubur hilang dari pengetahuan manusia, atau mungkin tersisa sebagai reruntuhan yang tak lagi utuh, yang dijerat dalam berbagai bentuk fiksi.

Sampul depan "Manusia Bugis"

Sampul depan disain Enin Supriyanto

Tentang waktu yang hilang ini, seorang sastrawan Prancis yang mengarang novel paling kompleks di abad ke-20 yang baru lewat, menulis: “Dan demikian pula dengan masa silam kita. Adalah kerja yang sia-sia untuk merengkuhnya kembali: segala upaya intelek kita niscaya akan berujung gagal. Masa silam lenyap sembunyi di luar tlatah pengetahuan, di seberang jangkauan intelek, di dalam obyek-obyek bendawi (dalam sensasi yang akan diruahkan oleh obyek-obyek bendawi itu pada kita) yang keberadaannya tak menilaskan pratanda apapun. Dan bergantung pada nasib dan peluang buta belaka, dapat tidaknya kita bersua dengan obyek-obyek itu sebelum pada akhirnya kita meninggal ….” — Marcel Proust, In Search of Lost Time, Volume I: Swann’s Way. (New York: The Modern Library, 1992), hlm 59-60.

Tanpa memperkecil peran para cendekiawan Eropa lainnya, para cendekiawan Prancis—kata yang di Nusantara berkerabat sangat dekat dengan kata yang membawa gema setengah-arkaik yakni Paranggi—tampaknya memang punya tempat khusus dalam gagasan tentang pemetaan waktu. Di simpang ke-19 dan ke-20, Marcel Proust, dan Henri Bergson, menggarap waktu yang berdenyut di dalam diri manusia, sementara Henri Poincare menggarap waktu kosmis yang dalam beberapa hal mendahului Albert Einstein. Di antara waktu kosmis dan waktu personal itu, ada waktu sosial—waktu sejarah. Di paruh pertama ke-20, sekumpulan ilmuwan Prancis yang kelak disebut sebagai “Mazhab Annales”, membentuk pendekatan baru dan revolusioner atas waktu sejarah. Dipelopori oleh Lucien Febvre dan Marc Bloch, dan dikukuhkan lebih jauh antara lain oleh Fernand Braudel, berkembanglah pendekatan interdisipliner atas sejarah yang dikenal sebagai Total History. Di Indonesia, pendekatan ini jelas terlihat pada karya-karya keilmuan Anthony Reid yang sangat berharga, dan terutama pada tiga jilid karya raksasa Denys Lombard, Le Carrefour Javanais.

Dalam waktu yang hampir bersamaan dengan terbitnya versi Bahasa Indonesia karya raksasa Lombard itu, Nusa Jawa: Silang Budaya (Jakarta: Gramedia, 1996), terbit pula edisi Bahasa Inggris dari karya besar Christian Pelras, The Bugis (London: Blackwell, 1996). Tampaknya betul bahwa setiap upaya intelektual yang dimatangkan oleh waktu dan tekanan, adalah sebutir intan yang amat berharga. Buku Pelras yang ditopang oleh riset lapangan yang luas selama empatpuluhan tahun ini adalah salah satu dari intan yang berharga itu. Masyarakat Indonesia pada umumnya—ditambah masyarakat Malaysia dan Singapura—dan masyarakat Bugis pada khususnya, tentu akan menyambut hangat intan ini. Ia akan melengkapi rangkaian intan yang sudah ada dalam khazanah pengetahuan sejarah kita, baik di Indonesia maupun di Asia Tenggara. Dengan buku ini kita bisa melihat Manusia Bugis terbias dalam cahaya aneka warna. Buku ini menjernihkan beberapa cahaya Manusia Bugis yang berkilau membutakan, sekaligus memperterang sejumlah cahaya lain yang redup oleh informasi yang tak memadai.

Meski menganggap jazirah selatan Sulawesi, Indonesia, sebagai sumber akar dan kampung halamannya, namun orang-orang Bugis hidup meyebar cukup luas di Asia Tenggara. Jejaknya terlihat di sejumlah tempat di wilayah utara dan baratlaut Australia. Manusia Bugis yang jumlahnya sekitar empat juta jiwa itu, sebagaimana dinyatakan dalam buku ini, adalah salah satu di antara masyarakat paling menakjubkan di Asia Tenggara dan Pasifik, dan juga yang paling sedikit diketahui.[1] Salah satu cahaya yang coba dijernihkan buku ini adalah citra mereka yang menyilaukan dalam legenda dan fiksi modern dimana mereka banyak dihadirkan sebagai—lalu diidentikkan dengan—bajak laut yang menggetarkan dan niagawan budak yang menggiriskan; seakan-akan perompakan di laut lepas sekaligus perdagangan budak belian adalah mata pencaharian alamiah dan satu-satunya yang mampu dikerjakan oleh Manusia Bugis. Tentu saja ada, dan banyak, orang Bugis yang hidup meniti buih di samudera luas. Tetapi sebagian besar di antara mereka, terutama yang hidup di kampung halamannya, dalam kehidupan nyata memang adalah petani, pekebun, pedagang, dan nelayan pantai. Richard Leaky, pakar ternama asal-usul manusia, tentu akan menandaskan bahwa orang Bugis adalah bagian dari ummat manusia yang nenek moyang terdekatnya adalah peramu dan pemburu; dan yang menjadi species modern karena membangun kemampuan beradaptasi yang mencengangkan, membangun bahasa, seni, sistem nilai dan kecakapan teknologis.

Bahwa orang-orang Bugis adalah salah satu masyarakat Asia yang menjadi pemeluk teguh ajaran Islam, sudah ditegaskan oleh cukup banyak kepustakaan. Begitu teguh mereka memeluknya sehingga Islam dijadikan bagian dari jatidiri mereka. Di Tanah Bugis orang bahkan bisa membuka sejarah perang pembebasan budak yang dikobarkan oleh tekad pelaksanaan syariah Islam secara sungguh-sungguh (dikenal sebagai periode lanjut Musu’ Selleng atau Perang Islam), dua setengah abad lebih sebelum perang pembebasan budak yang antara lain diilhami oleh Deklarasi Kemerdekaan meletup jadi perang saudara di Amerika Serikat. Namun demikian, seperti juga dibahas oleh buku ini, masyarakat Bugis yang sangat dalam menyerap Islam itu, di banyak wilayah, tetap mempertahankan berbagai bentuk peninggalan religio-kultural pra-islam. Sementara itu, trah bangsawan tradisional Bugis yang selama ratusan tahun menempati lapisan teratas tatanan masyarakat, menandaskan diri sebagai keturunan langsung dari dewa-dewa purba. Tetapi trah ningrat penuh warna ini bukanlah despot dengan kekuasaan absolut: mereka memperoleh kekuasaan dengan semacam konsensus sosial yang ditandaskan oleh rakyat yang menawarkan kekuasaan itu kepada mereka. Di Tanah Bugis, dan di tanah saudara-saudaranya di Sulawesi Selatan, rakyat memang lebih dahulu ada ketimbang raja. Dan rakyat yang tak puas pada pemerintahan seorang raja, bisa bertindak memakzulkan raja tersebut, atau membubarkan diri sebagai rakyat lalu berpindah menyeberangi laut untuk mendirikan komunitas baru yang lebih bermartabat, sambil mungkin tetap membawa cerita tentang tappi (pendamping jiwa), tentang kawali dan badik, yang memilih tuannya sendiri.

***

Pertautan antara hal-hal yang tampak bertentangan, oleh Pelras dianggap sebagai salah satu kekuatan utama masyarakat Bugis. Buku yang bukan sekedar terjemahan, tetapi penyempurnaan dari edisi bahasa Inggris, ini mengangkat cukup banyak pertautan antara hal-hal yang tampak bertentangan itu. Membaca buku ini, kita pun bisa menyimpulkan bahwa Sulawesi memang istimewa bukan hanya secara geo-ekologis tetapi juga secara sosio-historis. Dari Alfred Russell Wallace kita mendapat penegasan betapa geologi dan ekologi Sulawesi berbeda dari geologi dan ekologi kawasan barat Nusantara yang menjadi bagian Asia, sekaligus juga berbeda dari geologi dan ekosistem kawasan timur Nusantara yang menjadi bagian Australia. Dengan cara yang lain, Pelras mencoba menunjukkan bahwa di masa silam, masyarakat di Sulawesi, khususnya masyarakat Bugis, menempuh sejarah yang berbeda dari Masyarakat Jawa yang begitu dalam menerima pengaruh India, proses yang oleh Lombard disebut sebagai “mutasi pertama” dunia Jawa.

Ada sejumlah argumen yang diajukan Pelras tetapi yang paling menarik adalah kenyataan yang oleh Pelras dianggap istimewa, yakni kemampuan masyarakat Bugis membangun kerajaan-kerajaan yang tak berpusat di kota-kota. Kemampuan ini tentu merupakan kontras dari masyarakat Jawa yang kerajaan-kerajaannya berpusat di ibukota yang ditata menurut sebuah struktur konsentris. Kontras antara ketiadaan pusat di kerajaan-kerajaan Bugis dengan keterpusatan yang memaku dan memangku dunia di kerajaan-kerajaan Jawa, bisa mengingatkan orang pada berbagai hal. Termasuk juga pada perdebatan metafisis tentang hakekat ontologis hal ikhwal, tentang komponen dasar realitas. Perdebatan yang akarnya mejelujur ribuan tahun ke belakang ini terjadi antara mereka yang meyakini bahwa komponen dasar realitas adalah substansi, dengan mereka yang menyimpulkan bahwa komponen dasar itu adalah relasi dan proses, dan bahwa alam semesta—mengutip kalimat filosof dan ilmuwan besar kelahiran Clermont, Blaise Pascal—merupakan bulatan yang permukaannya tidak di mana pun dan pusatnya ada di mana-mana. Pemikiran pertama telah melahirkan teori atom dan kosmologi klasik, sementara pemikiran kedua dekat dengan teori atom dan kosmologi mutakhir. Pemikiran tentang substansi yang selalu mengandaikan pusat itu dekat dengan pandangan dunia yang melahirkan kerajaan-kerajaan konsentris. Sementara pemikiran yang mengangkat relasi sebagai komponen dasar realitas, selain telah menghasilkan Filsafat Proses dan sejajar dengan paradigma Mekanika Kuantum, juga agaknya bisa membantu menerangi masyarakat-masyarakat yang mengatur dirinya tanpa sebuah pusat.

Jika status cahaya sebagai gelombang atau partikel ditentukan oleh kondisi sang pengamat, seperti yang dirumuskan dengan sangat cantik oleh fisikawan dan pangeran Prancis Louis de Broglie; maka pengaturan masyarakat dengan pusat atau tanpa pusat, agaknya memang ditentukan oleh kekuatan-kekuatan sejarah, seperti yang bisa ditandaskan dari kajian Lombard dan Pelras. Dalam kenyataan sosio-historis, substansi dan relasi, pusat atau tanpa pusat, tentu bisa hadir berbarengan. Kerajaan-kerajaan di Jawa memang diatur secara terpusat, tetapi masyarakat Jawa tertentu yang tak terjangkau pusat itu bisa juga membentuk masyarakat yang tidak konsentris. Di masyarakat Bugis, yang tampak dominan memang adalah dunia sosial politik yang tak berpusat, tetapi Kerajaan Bone dalam perkembangannya terlihat menyemaikan bibit pemusatan akibat tekanan kuat dari berbagai arah. Dalam hal ini Bugis tentu bukan kasus yang istimewa. Peradaban Tiongkok, dalam skala yang lebih kolosal, juga memperlihatkan hal yang mirip. Berabad-abad peradaban Tiongkok atau Negeri Tengah itu ditata secara terpusat dan menjadikannya sebuah peradaban yang paling sinambung dalam sejarah, telepas dari dinasti-dinasti yang silih berganti memerintahnya. Namun demikian, masyarakat-masyarakat Cina yang terpinggirkan oleh kekuasaan pusat, selama ratusan tahun telah membentuk sebuah jaringan Cina perantauan yang bergerak karena relasi-relasi khusus. Di simpang alaf ini, jaringan Cina perantauan tumbuh menjadi kekuatan bisnis dan ekonomi yang sangat diperhitungkan di kedua sisi Samudera Pasifik.

Hal lain yang menarik dari masyarakat Bugis adalah bahwa sekalipun mereka telah membangun kerajaan-kerajaan yang tidak berpusat di kota-kota, namun mereka juga membangun sejumlah stuktur epistemik yang bisa dikatakan berpusat. Yang paling menonjol di antara semua struktur itu adalah epik mitologis La Galigo. Narasi besar yang berkisar pada apa yang dianggap sebagai genesis manusia dan kerajaan tertua yang dijunjung di Tanah Bugis ini, adalah pusat yang dengannya masyarakat Bugis Lama menjangkarkan dan menata diri. Yang tertarik ke dalam gravitasi dan kemudian mengorbit di sekitar epik mitologis La Galigo ini bukan lagi kerajaan-kerajaan Bugis tapi juga beberapa kerajaan dan komunitas lain yang ada di luar semenanjung selatan Sulawesi. Tentu bukan hanya karena fungsi penataan dan pengaturan dunia yang disediakan oleh narasi raksasa La Galigo ini, yang ikut mendorong Pelras menjadikan La Galigo sebagai bahan bagi sebuah rekonstruksi hipotetik pra-sejarah Bugis.

***

Walau jelas belum sebanyak kepustakaan tentang Jawa, namun kepustakaan tentang Bugis sudah banyak juga yang terbit. Sarjana-sarjana Bumiputera sendiri, seperti H. A. Mattulada dan Hamid Abdullah, untuk menyebut beberapa nama, telah menghasilkan karya intelektual yang cukup penting di bidang ini. Namun yang menarik dari karya Pelras adalah bahwa buku inilah yang pertama dan yang sejauh ini paling luas mengurai sejarah orang-orang Bugis. Cakupannya terentang dari kurun fajar antropologis sekitar 40.000 tahun yang silam yang darinya kelak memunculkan leluhur masyarakat Bugis, kurun peradaban awal yang sejumlah unsurnya dibingkai dalam siklus La Galigo, hingga ke masa kini — masa masuknya masyarakat Bugis menyongsong fajar alaf ketiga. Bersama dengan uraian yang menjangkau dan menjelujur jauh ke belakang, karya Pelras ini sekaligus menyajikan satu gambaran yang relatif lengkap dan agak kaleidoskopik, tentang masyarakat Bugis kontemporer yang melebur diri ke dalam satuan sosial politik yang lebih besar. Dengan itu, terpaparlah kemampuan Bugis bertahan tumbuh dengan beraneka pengembangan dan pengerutannya menghadapi berbagai tekanan dan perubahan, sejak jaman prasejarah Nusantara hingga datangnya gelombang penghianatan kambuhan Belanda, pendudukan armada Jepang, konflik-konflik sosial-politik pasca-proklamasi akibat kesalah-pahaman dan aspirasi yang kehilangan ruang, dan hempasan-hempasan mutakhir modernitas yang melanda seluruh permukaan bumi.

Selain penelitian lapangan puluhan tahun dimana Pelras memboyong keluarganya untuk hidup langsung di jantung masyarakat Bugis yang saat itu masih sulit dijangkau dan diharu-biru oleh konflik senjata, buku yang terbagi atas dua lapisan besar ini, juga didasarkan pada riset tradisi oral, kronik-kronik dan epik-epik yang tertulis. Tak cukup dengan itu semua, Pelras menelaah kisah-kisah perjalanan yang berasal dari abad ke-16 hingga abad ke-19; dan riset mutakhir para sarjana Barat dan Timur di bidang arkeologi, sejarah, ekonomi, linguistik dan antropologi. Semuanya dikerahkan untuk mengangkat dunia Bugis yang secara garis besar, menurut Pelras, perjalanan sosio-kulturalnya dapat dibagi ke dalam delapan periode. Telaah Pelras yang luas dan telah menyedot hampir 2/3 dari usianya itu, seakan mengupas lapis-lapis waktu yang membentuk sejarah dan kehidupan masyarakat Bugis—lapis-lapis waktu yang tanpa kegigihan para ilmuwan seperti Pelras, akan benar-benar tertimbun lenyap di luar ranah pengetahuan, di seberang jangkauan jernih intelek.

Proust agaknya betul bahwa tergantung pada unsur nasib dan peluang saja, seseorang dapat bersua dengan obyek bendawi dan sensasi yang diruahkan oleh obyek bendawi itu, yang memungkinkan seseorang menemukan dan menghidupkan kembali masa-masa yang sudah silam itu. Dalam hal masyarakat Bugis, agaknya unsur kebetulan dan nasib baik—yang bagi sebagian cendekiawan Bugis bahkan terasa nyaris mendekati berkah—itu pula yang membuat mereka mendapatkan seorang Christian Pelras, seorang ilmuwan yang praktis tak punya hubungan kekerabatan apapun dengan masyarakat Bugis, kecuali sekedar kekerabatan sebagai sesama anggota subspecies Homo sapiens sapiens. Dedikasi dan karya-karya Pelras—sarjana bule yang kerap terasa tak kalah Bugis dari kebanyakan Manusia Bugis sendiri—memancarkan sejenis sensasi yang bisa sangat membantu masyarakat Bugis merengkuh sekaligus menghidupkan sebagian masa silam mereka.

Sudah umum diketahui bahwa sejak beberapa dekade yang silam upaya-upaya intelektual para ilmuwan Barat mengaji negeri-negeri Timur, telah mendapat tanggapan kristis bahkan mungkin sinis, dan mereka pun sebagian dicap orientalis yang merupakan perpanjangan tangan nafsu imperial untuk menundukkan Timur. Para ilmuwan Timur pun berupaya memanggul tanggung jawab meneliti dunia mereka sendiri,[2] dan beberapa di antaranya telah menghasilkan karya dengan mutu intelektual yang menonjol. Apa yang dilakukan oleh sejumlah ilmuwan asing di negeri-negeri yang dikajinya, sebagiannya memang berupa penggambaran peta yang tak jarang sangat simplistis dan digunakan untuk membekukan sekaligus menundukkan wilayah itu. Namun harus juga diakui, bahwa sejumlah peta sejarah yang dihasilkan oleh para ilmuwan asing itu, sungguh lebih halus dan lebih realistis dari kebanyakan peta yang digambar atau diangankan oleh para cendekiawan pribumi sendiri.

Peta masa silam Jawa yang disajikan Lombard, dan peta masa silam Bugis yang dihadirkan Pelras, adalah contoh dari peta-peta yang dimaksud. Dalam peta Pelras yang mendapat nama Bugis La Massarassa Daeng Palippu (kurang lebih: Si Penghimpun Pengetahuan, Daeng Pembangkit Pening), mungkin antara lain karena upaya nekatnya yang tampak tak masuk akal dalam memburu dan menata ilmu, tersaji sebagian daya hidup kebudayaan Bugis dalam sejumlah perwujudannya yang memikat. Di bagian akhir buku ini, Pelras menyajikan pertautan masyarakat Bugis kontemporer ke dunia global mutakhir yang berlangsung tanpa guncangan dan penolakan kultural. Pertautan ke dunia yang sedang tumbuh itu, yang bagi sejumlah besar Bugis bahkan menjadi pilihan satu-satunya untuk tegak sebagai manusia, terdedah jelas dalam pemaparan naiknya lapis pemimpin dan masyarakat baru Bugis yang mengandalkan bukan klaim silsilah supra-manusiawi. Mereka bangkit (tompo’) antara lain karena keyakinan akan nasib (toto’) yang wajib ditawar dan dibentuk sendiri di tengah segala keperitan, dan penguasaan pengetahuan rasional yang diserap dari berbagai tempat di luar Tanah Bugis, sampai ke belahan bumi yang lain.

Ada memang sejumlah anasir dalam kebudayaan Bugis yang membuat perengkuhan atas dunia global mutakhir—yang menaruh hormat pada gagasan tentang universalitas akal yang menuntun dan manusia yang bertindak—menjadi sesuatu yang tampak organik. Perengkuhan itu bahkan seharusnya sudah terjadi secara luas sejak awal, andaikan tak dihambat oleh sejumlah hal, termasuk oleh serbuan kolonialisme dan imperialisme yang datang dengan kekerasan monopoli dan ideologi etnosentris yang menyesakkan. Di atas peta kala yang seakan merekahkan kelopak-kelopak waktu itu, Pelras menyisipkan sejumlah detak kebudayaan Bugis yang tampak melangkahi denyut kultural Eropa yang sering dianggap berada di garis terdepan arus waktu progresif. Pelras misalnya menyajikan bagaimana kebudayaan Bugis menyediakan ruang bagi gender ketiga dan keempat (calabai dan calalai), dan bagaimana perempuan menduduki tempat yang benar-benar sejajar dengan lelaki, dengan hak setara dalam merumuskan kebijakan-kebijakan kerajaan sekaligus bertahta memerintah kerajaan itu. Dalam sejumlah peristiwa, bahkan di masa ketika abad ke-20 belum menjelang tiba dan Simone de Beauvoir belum mengarang The Second Sex, perempuan telah tampil lebih bernyali dan berotak dari para lelaki, menandaskan keputusan-keputusan penting yang mempertaruhkan masa depan kerajaan.

Kesetaraan gender dan penyediaan ruang pada gender yang lain itu, adalah sebagian dari hal-hal yang membuat tercengang banyak penjelajah Eropa yang pernah singgah di Tanah Bugis. Meski tak terlalu panjang lebar, Pelras menyajikan banyak hal dari tradisi Bugis yang tampak mendahului jamannya, yang beberapa di antaranya juga terdapat di bagian lain di Asia dan Pasifik, dan dengan itu menyangkal sekali lagi banyak gagasan usang tentang Dunia Timur, sekaligus menandaskan adanya kesamaan dan potensi universal ummat manusia yang akan berkembang rimbun jika keadaan dibuat memungkinkan. Tak berlebihan kiranya jika di kalangan sarjana dan penerbit internasional, buku ini dianggap sebagai “a work of outstanding scholarship, interest and originality.”[3]

Sampul belakang, karya Enin Supriyanto

Sampul belakang disain Enin Supriyanto

Mungkin kelak, akan ada orang yang dengan bekal antara lain peta Bugis Pelras, berhasil mengangkat sejumlah tempat penting yang telah tertimbun waktu namun senantiasa disebut dalam puisi epik La Galigo; mirip dengan riwayat petualang dan arkeolog amatir Jerman Heinrich Schliemann yang di abad ke-19 mengupas reruntuhan kota Mikena, Troya, dan Tirins dengan bekal antara lain puisi epik yang diwariskan Homeros dan Virgil. Kemungkinan lain adalah bahwa sejumlah ilmuwan dan peneliti, dengan bantuan teknologi yang makin halus, akhirnya membuktikan betapa peta yang disusun Pelras ternyata, pada beberapa bagian, memang tak terlalu akurat menggambarkan keadaan yang sesungguhnya. Bahkan sekarang pun, mereka yang lahir di Tanah Bugis dan cukup lama hidup di sana lalu bergaul agak luas dengan gagasan-gagasan mutakhir dunia, bisa agak berkerut kening membaca, antara lain, kerikuhan Pelras menyingkap ilusi klasik dunia Bugis sebagai murni himpunan harmoni, dengan akses mobilitas vertikal yang seakan terbentang tanpa batas bagi semua penghuninya. Tetapi, penyingkapan yang menjadi prasyarat bagi pengembangan itu agaknya memang lebih tepat diemban oleh cendekiawan Bugis sendiri.

Sementara itu, bahkan sejarah kartografi dunia pun dipenuhi oleh sejumlah kekeliruan yang terus-menerus dikoreksi; kekeliruan yang selain telah membantu manusia mengubah dunia di abad-abad yang silam, juga kini dihargai sebagai karya seni yang ikut merekam perkembangan pandangan dunia manusia. Peta waktu Bugis Pelras pun, termasuk peta pra-sejarah yang dengan tegas dan rendah hati dikatakannya sebagai hipotetik itu, jelas akan membantu banyak pihak, bukan hanya Manusia Bugis yang terus berupaya membentuk masa depannya sekaligus masa depan tempat-tempat di mana kaki-kaki fisiologis dan imajiner mereka berpijak. Di tangan para sarjana seperti Lombard, Pelras, Reid, Kahin, Greetz, Wartheim,  Poeze, Anderson, Shiraishi dan sederet nama yang lain dari berbagai latar belakang, etnologi dan etnografi yang punya akar pada pelukisan kehidupan bangsa-bangsa yang dianggap barbar, berkembang menjadi persembahan yang hangat dan murah hati dari satu bangsa ke bangsa yang lain, sesuatu yang sungguh kian dibutuhkan dalam dunia yang memang tak punya batas yang tak tertembus, namun yang kadang masih ingin disekat dan dibuat kedap oleh batas-batas bikinan manusia sendiri.***

Jakarta, Oktober 2005

Nirwan Ahmad Arsuka

Tulisan ini adalah Pengantar versi Indonesia The Bugis Christian Pelras. Manusia Bugis (Jakarta: Nalar, 2006)

Versi “ringkas” pengantar ini dimuat di Bentara—KOMPAS, Sabtu 4 Februari 2006


[1] Lihat juga halaman “The Bugis” Christian Pelras di situs amazon.com.

[2] Baca juga pengantar Henri Chambert-Loir, “Pengabdian Seumur Hidup Denys Lombard (1938-1998)”, dalam Henri Chambert-Loir, Hasan Muarif Ambary, ed., Panggung Sejarah: Persembahan Kepada Prof. Dr. Denys-Lombard (Jakarta: YOI, 1999).

[3]The Bugis” Christian Pelras di situs amazon.com. ibid.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: