Epistemologi

September 9, 2008

Kebenaran dan Kesalahan

Tingkat kecanggihan sebuah ummat, jenjang kehalusan sebuah peradaban, terukur paling jelas pada cara mereka menangani kesalahan. Sebagai makhluk yang daif, kesalahan telah menemani manusia sejak waktu yang sudah hilang dari ingatan, sejak jaman yang sudah lenyap dari sejarah. Kesalahan jelas lebih tua dari kebenaran, lebih sepuh sekaligus lebih esensial dalam mengasuh manusia. To err is human.

Belajar

Pada masyarakat-masyarakat yang masih sangat sederhana, kesalahan ditangani dengan cara yang juga sangat sederhana, bahkan kasar dan boros. Kesalahan kerap disalah-pahami sebagai kejahatan yang menyaru. Dikepung sekaligus oleh kelangkaan sumber-sumber dan lingkungan alam yang bisa berubah tak terduga, masyarakat sederhana ini akan dengan lugu menangani kesalahan sebagai sumber bala. Sebuah kesalahan kecil saja dalam menebak datangnya badai gurun pasir, misalnya, bisa berakibat terkuburnya seluruh puak. Kekeliruan kecil menginjak pasir hidup (quicksand), mengakibatkan sejumlah nyawa akan terhisap hanyut.

Karena hubungan sebab akibat masih berselimut kabut, sementara beberapa kesalahan kecil ternyata dapat berakibat fatal, maka seluruh kesalahan kecil pun akhirnya diwaspadai, bahkan ditakuti. Berbagai jala tabu dan larangan pun dirajut, dan kadang begitu ketat dengan harapan agar kesalahan paling mungil pun tak dapat lolos menjelma bencana. Tapi, jika kesalahan-kesalahan mungil tak boleh muncul, maka begitu juga dengan kreasi dan inovasi  radikal yang seringkali dibenihkan dalam berbagai kesalahan. Masyarakat-masyatakat ini mungkin memang dapat mengelakkan bencana untuk sementara, namun mereka membeku kaku dalam terungku ketak-berubahan.

Penanganan yang kasar dan boros terhadap kesalahan tak dengan sendirinya surut bersama dengan berkembangnya tata kehidupan sosial. Dalam Babad Tanah Jawi, ada kisah tentang seorang pangeran belia yang ke dalam matanya ditumpahkan semut sebelum dieksekusi. Kesalahan sang pangeran yang lahir dengan paras tampan itu adalah: suatu hari ia berkuda dengan gagah dan membuat terpesona putri-putri keraton; dan itu dianggap menghina sang putera mahkota yang wajah dan tubuhnya memang perlu diedit. Dari babad yang sama, tercatat kisah tentang 6000 jiwa keluarga ulama yang diperlakukan bagai krupuk: dijemur dan dibiarkan mati kaku di alun-alun. Penyebabnya adalah karena segelintir di antara ulama itu jatuh iba pada sang putra mahkota yang lagi kasmaran, dan akhirnya konon membantu sang pangeran mahkota menemui pujaan hatinya yang kebetulan adalah cewek simpanan ayahandanya, sang raja yang sangat kuasa.

Indonesia memang termasuk gemah ripah loh jinawi dalam hal penanganan kesalahan secara boros. Empat dekade yang silam, ratusan ribu manusia dibantai tanpa pengadilan dan jutaan keluarga retak berantakan, disingkirkan oleh rezim yang berkuasa yang memperlakukan mereka sebagai warga negara kelas dua. Kesalahan orang-orang ini sebagian berawal dari keterpukauan pada bujukan dan impian perubahan nasib secara revolusioner. Indonesia tentu bukan satu-satunya negeri di mana kesalahan ditangani secara boros. Di banyak tempat di dunia ini, kita tetap bisa menemukan sejumlah kesalahan yang ditangani dengan besaran pemborosan yang sudah dapat dikategorikan kriminal, di mana kesalahan diluruskan dan dihindari dengan cara membuat kesalahan-kesalahan baru sekaligus mengulang kesalahan-kesalahan lama.

Satu-satunya masyarakat yang belajar menangani kesalahan secara cantik adalah masyarakat ilmiah. Di dalam lingkungan yang benar-benar rasional dan ilmiah, kesalahan bahkan mendapatkan tempat terhormat sebagai ibu ilmu pengetahuan ― bukan ilmu pengetahuan itu sendiri. Kebenaran ilmiah yang tak pernah mutlak itu, memang hanyalah anak kandung dari kesalahan yang menyisihkan diri. Itu sebabnya ilmu pengetahuan dengan modal rasio yang daif, mustahil melepaskan diri dari kritik dan eksperimentasi. Kritik dan eksperimentasi adalah tulang punggung, lebih tepat lagi: nyawa, dari ilmu pengetahuan. Dengan kritik, ilmu mengoreksi penalarannya, menyadari sekaligus memperluas batas-batas teorinya. Dengan eksperimentasi, ilmu bertanya jawab dengan alam semesta tentang hakekat-hakekatnya. Jawaban alam semesta pada penalaran manusia, adalah jawaban biner yang tidak pernah berarti “ya”: paling banter hanya “mungkin”, dan yang paling sering adalah “tidak”. Jika sebuah eksperimen memberi hasil yang sesuai dengan prediksi sebuah teori, hal itu tak membuktikan bahwa teori itu benar, seperti ditandaskan oleh Karl R. Popper. Itu hanya memperpanjang usia kelayakan teori itu. Dan cukup satu saja eksperimen yang membantah ramalan sebuah teori akan membuat teori itu kehilangan otoritas.

Apa yang diperoleh sains dengan teori dan eksperimennya, adalah himpunan dari pengetahuan tentang hal-hal yang relatif benar, yang ditapis dan dipisahkan dari pengetahuan tentang yang mutlak salah. Itu sebabnya Stephen Hawking misalnya menganjurkan agar seluruh ilmuwan mengumumkan seluruh kesalahan yang mereka tangani, bukan hanya kebenaran yang mereka temui. Kesalahan yang diumumkan membantu ilmuwan lain bertanya jawab secara lebih efisien dan lebih cerdas dengan kenyataan semesta ― kenyataan besar yang jawabannya mungkin tak gampang dibuka, namun sungguh tak pernah berdusta. Ilmu pengetahuan rasional adalah buah dari kesadaran atas rasio yang daif, dan fakta kenyataan semesta yang berkembang dengan cara yang tidak sia-sia. Jika alam semesta dan seisinya ini tak bersedia dipahami oleh akal daif manusia, maka pengetahuan rasional menjadi sesuatu yang mustahil. Nyatanya, sains dan teknologi yang rasional itu telah tumbuh menjadi kekuatan paling dahsyat dalam sejarah manusia, dan kian dahsyat ilmu dan teknologi manusia kian terbuka pula alam semesta membentangkan diri.

Gabungan antara kritik, eksperimen dan kenyataan semesta yang terbuka bagi pemahaman akal manusia (intelligibility), membuat pengetahuan ilmiah tak mengenal istilah “pelecehan ilmu” atau “penistaan sains”. Dalam masyarakat ilmiah, mustahil terjadi seorang penyusun teori atau pelaksana percobaan dituntut dan diseret ke meja hijau. Jika sejarah perkembangan ilmu modern diwarnai dengan kasus Galileo Galilei yang dibungkam sebagai tahanan rumah atau Giordano Bruno yang bahkan dihukum bakar hidup-hidup, itu semua bukanlah metode ilmiah mengayak kesalahan, tapi adalah gerakan anti ilmu yang dimotivasi oleh ketakutan dan kekuasaan berkedok agama. Masyarakat ilmiah tak mungkin goncang lantas meletup naik pitam hanya karena selembar kanvas yang dipajang di sebuah galeri. Komunitas saintifik mustahil menciptakan kekacauan dan ancaman pembunuhan, atau membakar gedung kedutaan misalnya, hanya karena sejilid novel, sepotong film atau sejumlah kartun yang berselera buruk. Masyarakat ilmiah akan tertawa, setidaknya geleng-geleng kepala, pada gagasan penciptaan pasukan bunuh diri yang militan untuk berjihad membela kehormatan ilmu dari penghinaan musuh-musuhnya. Jika ada hal-hal yang meyalahi dan menggoncang ilmu pengetahuan, entah berupa tersingkapnya kenyataan-kenyataan baru atau munculnya pendapat-pendapat radikal, maka ilmu akan menanggapinya tidak dengan cara yang boros, yang menghambur-hamburkan harta benda dan nyawa manusia.

Ilmu menghadapi seluruh goncangan dan serangan itu dengan mencoba memahami mereka seterang mungkin, memilah-milah pokok soalnya sehalus mungkin, dan itu semua dilakukan dengan kembali ke laboratorium dan perpustakaan. Kalau pun ada perdebatan yang berkobar, itu dilakukan dengan menulis paper berisi kritik dan teori tandingan, sambil membangun instrumen penguji yang makin hebat. Perdebatan mulut mungkin saja rekah, namun tak pernah berpatah arang dengan humor dan komentar yang menjaga proporsi, yang sadar bahwa kualitas isi komentar tak dipengaruhi oleh gegap gempita penyampaian komentar. Jika akhirnya, kenyataan baru yang menyalahi ilmu pengetahuan itu terbukti tak terbantah dan meruntuhkan bangunan ilmu pengetahuan yang ada, maka dengan antusias masyarakat ilmiah meninggalkan seluruh khazanah ilmu lama, yang dengan sendirinya dianggap kadaluwarsa dan terbatas itu.

Pembongkaran sebagian khazanah ilmiah klasik, apalagi pembongkaran seluruhnya, adalah kejadian yang akan selalu diterima masyarakat ilmiah progresif dengan luapan emosi yang hanya menghinggapi mereka yang memenangkan revolusi. Ijtihad yang tangguh sungguh adalah elan vital dan keutamaan tertinggi dalam ilmu pengetahuan modern; kian radikal dan kian revolusioner ijtihad itu, kian dahsyat pula perkembangan ilmu pengetahuan yang diakibatkannya. Sejak awal abad ke-20, mereka yang berhasil menyalahi dan meruntuhkan pengetahuan lama, akan dihormati sebagai pahlawan ilmu dan diganjar bukan dengan fatwa mati tentu, tapi dengan berbagai penghargaan ― minimal Hadiah Nobel. Runtuhnya bangunan ilmu pengetahuan klasik, yang membuka jalan bagi berkembangnya pengetahuan ilmiah yang lebih maju, memanglah revolusi yang pantas dirayakan ― revolusi yang menandaskan langkah baru dalam perkembangan kecerdasan akal daif manusia.***

Nirwan Ahmad Arsuka

Dimuat di Majalah Azzikra, edisi Maret 2006

One Response to “Epistemologi”

  1. ading Says:

    “Satu-satunya masyarakat yang belajar menangani kesalahan secara cantik adalah masyarakat ilmiah. Di dalam lingkungan yang benar-benar rasional dan ilmiah, kesalahan bahkan mendapatkan tempat terhormat sebagai ibu ilmu pengetahuan ― bukan ilmu pengetahuan itu sendiri.”

    Benar-benar benar. Thanks.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: