Seni Rupa
July 30, 2009
Konser Imaji
Dari luar, gedung Museum Nasional Jogja di Gampingan itu tampak sungguh tak istimewa. Selain selembar poster lebar tentang pameran tunggal Agus Suwage (Still Crazy After All These Years: 05 – 31 July 2009) dengan kurator Enin Supriyanto yang membentang di dinding pojok depan, gedung itu seperti tak bergairah untuk menawarkan sesuatu yang layak kenang.Tapi setelah berada sekian menit di dalam, ruang-ruang gedung itu terasa memuai dan saya seakan melangkah perlahan di tempat lain yang kebetulan pernah saya datangi: Tate Modern Gallery dan Mori Art Museum.
Sastra
September 25, 2008
Dari 100 Suara Pinggir
“Kata, Waktu”
Tampaknya hanya diperlukan kedua belah tangan, untuk menghitung jumlah cendekiawan kontemporer Indonesia yang hampir tanpa interupsi, menulis dengan mutu relatif terjaga selama puluhan tahun. Ada dua yang sangat menonjol, setidaknya dari segi publisitas, dari kelompok minoritas ini: Pramoedya Ananta Toer dan Goenawan Mohamad. Pram, sastrawan Indonesia yang paling terkenal di dunia itu, kini hanya menerbitkan ulang karya-karya lamanya dan tak lagi menyentuh mesin tiknya. Dengan tingkat kesuburan yang menakjubkan bukan hanya untuk ukuran Indonesia, Goenawan masih terus menata kata dan kalimat. Konon sajak Goenawan yang pertama, tentang rembulan, ditulisnya di sekitar tahun 1952—entah seperti apa persisnya sajak yang dilahirkan di usia sebelas tahun itu. Dalam 25 tahun terakhir, tulisan-tulisannya nyaris setiap minggu datang menyapa, dalam bentuk Catatan Pinggir. Kolom yang kehadirannya pernah hampir mati dikubur oleh Rezim Soeharto, dan sempat muncul di majalah Suara Independen, memang merupakan kolom dengan karakter paling istimewa dalam khazanah intelektual Indonesia. Sedemikian istimewa sehingga orang bisa dimaafkan jika mengumumkan bahwa di Indonesia ada dua macam esai—pertama adalah esai, pada umumnya; kedua adalah Catatan Pinggir.
Sastra
September 23, 2008
La Galigo, Odisei, Trah Buendia
Sawerigading dalam epik Bugis ‘karya’ I La Galigo dan Odiseus dalam epik Yunani ‘karya’ Homerus — kedua tokoh ini tidak sekedar meniti ombak menyusur dunia. Mereka berdua membangun semesta, yang ditata pada skala pemahaman manusia.
Tersusun dari sekitar 300.000 larik sajak dalam bahasa tinggi arkaik dengan berbagai cerita berangkai, Sureq (serat) Galigo adalah salah satu karya sastra terbesar dunia. Dan yang pasti, bersama epik besar Kyrgizstan yang berusia seribu tahun, Manas; dan novel terbesar Cina berjumlah 120 jilid, Impian Kamar Merah (Hung Lou Meng) ‘karya’ Cao Xueqin dan Gao E yang ditulis di Era Dinasti Manchu di pertengahan abad 18, Sureq Galigo termasuk naskah klasik terpanjang yang dihasilkan manusia.
Dari segi jumlah larik sajak saja, Sureq Galigo sudah melampaui epos terbesar Anak Benua India yang kerap dianggap terpanjang di dunia: Mahabharata. Tapi panjang larik sajak, kecuali mungkin memamerkan stamina penyusunnya, tak dengan sendirinya mencerminkan kekuatan sebuah karya.
Sastra
September 23, 2008
La Galigo dan Kanon Sastra Dunia:
Penciptaan dan “Penemuan” Manusia
Canons, which negate the distinction between knowledge and opinion, which are instruments of survival built to be time-proof, not reason-proof, are of course deconstructable; if people think there should not be such things, they may very well find the means to destroy them.
Sir Frank Kermode
Kanon, kita tahu, adalah kumpulan naskah yang dikukuhkan sebagai “ukuran”, norma, pegangan yang berwibawa, sukma bagi kehidupan komunitas yang memegangnya. Kanon adalah standar yang menjadi sumber ilham bagi kehidupan penciptaan generasi berikutnya. Menurut Harold Bloom, pemikir dan kritikus sastra yang sangat berpengaruh dari Universitas Yale, sebuah teks menjadi kanon sastra karena kemampuannya membuat kita merasa asing di tengah lingkungan sendiri (feel strange at home). Atau sebaliknya, membuat kita merasa betah dan akrab di tengah dunia yang asing (at home out of doors, foreign, abroad).
Film
September 20, 2008
Pedang dan Dunia
“HERO” Episode 2
ADA film yang, seperti adikarya seni lain, selalu saja membuat kita bisa lupa pada dunia ini, untuk kemudian menemukannya kembali dengan cahaya yang baru. Tiap kali kita mengajinya lagi, film-film ini bergerak menghamparkan diri dengan sejumlah kilau manikam baru, yang dulu masih sembunyi dalam lipatan-lipatannya. Hero (2002) Zhang Yimou adalah film jenis ini, dan kita menghela napas—dan mengambang—hampir di tiap scene yang hadir bagai untaian batu mulia seni rupa yang memukau. Film ini membentangkan tumpukan lapis panorama yang spektakuler, dan shot-shot lanskap bersudut lebar, di mana penonton tak diajak untuk melenyapkan diri menyatu dengan alam, tetapi justru menyesap alam menyatu dalam diri.
Hero adalah kaligrafi di mana “profundity depends on perception.” Ia juga danau yang menampung langit, yang bisa ditepuk dengan beragam tangan dan pedang, dan menggemakan beragam bunyi dan pesan. Ketika pertama kali menyimaknya, saya pikir bahwa film dengan struktur dan puisi yang berlapis-lapis ini, yang membongkar mitos, sejarah, dan legenda, tak tuntas menggali pengertian arketipe tentang pahlawan dalam psike Timur. Film ini mentok jadi propaganda bagi kediktatoran dan aneksasi, bagi faham legalisme yang mempromosikan kuatnya negara di depan masyarakat, yang dengan sistematis dilemahkan.
Sastra
September 17, 2008
Priyayi: Kerja dan Sejarah
Jika Teologi Ortodoks ingin mengubah manusia untuk mengubah dunia, dan Teologi Pembebasan ingin mengubah dunia untuk mengubah manusia, maka Teologi Priyayi nerimo mengubah manusia untuk tidak mengubah dunia. Tentang Teologi Ortodoks dan Teologi Pembebasan, defenisinya datang tentu dari intelektual Peru berdarah Indian: Gustavo Guiterrez. Pembedaan yang kuat itu pernah menjadi salah satu ilham utama pelahiran kembali Amerika Latin, benua yang digenangi tradisi religius yang berkelindan dengan gelora perlawanan dan sejarah penindasan ratusan tahun. Tentang “Teologi Priyayi”, batasannya datang dari pembacaan saya — yang mungkin saja salah — atas novel mutakhir Umar Kayam: Jalan Menikung — Para Priyayi 2.
Memang, tentang Teologi Priyayi, catatan harus segera diberikan. Sejauh ini tampaknya tak ada itu yang bisa dengan tegas didefenisikan sebagai Teologi Priyayi. Clifford Geertz betul telah menulis Agama Jawa, dan Frans Magnis-Suseno membabar Etika Jawa, tapi di kedua buku menarik itu Teologi Priyayi hadir bagai suar redup di balik kabut. Namun, jika teologi dipahami sebagai pelaksanaan dari iman dan pengalaman religius yang berkaitan dengan Yang Maha Luhur dan Dunia, maka hal-hal demikian memang bisa ditemui di dua novel priyayi Umar Kayam.
Sastra
September 17, 2008
Ingatan Yang Menyembuhkan
Comparative Literary Studies adalah bidang yang sangat luas yang mengaji sastra, dan bentuk seni lain, dengan melintasi batas-batas bangsa dan linguistik, dan dengan tetap memperhatikan konteks sejarah dan kebudayaan dari karya-karya itu. Tulisan ini tak akan menjelajah sejauh itu. Ia hanya mencoba, dengan agak longgar, membandingkan melulu teks dari novel Larung karya Ayu Utami, dan The God of Small Things karya Arundhati Roy.
Kedua novel ini, ditulis oleh perempuan muda yang sama-sama lahir di negeri Asia, boleh dikata luar biasa. Larung, bahkan sebelum muncul di pasar sekian minggu lalu, telah dipesan sebanyak 15.000 eksemplar. Itu prestasi yang fenomenal untuk ukuran Indonesia. The God of Small Things yang terbit 4 tahun lalu, kini telah terjual lebih dari 6 juta eksemplar, dan telah diterjemahkan ke dalam 40 bahasa.
Sastra
September 17, 2008
Taman Gagasan Umberto Eco
Di salah satu periode paling hiruk pikuk dalam sejarah intelektual dunia, ketika astronomi moderen yang dirintis Kopernikus dan ditopang Galileo menggusur habis posisi manusia dari pusat alam semesta dan segenap ciptaan, Roberto della Griva, dengan ganjil menjadi pusat kosmos satu-satunya yang ia tahu. Di sekitar garis imajiner meridian Bumi yang membagi masa silam dan masa kini, di tengah keluasan samudera Pasifik Selatan, ia terdampar sendirian dan mempertahankan kelangsungan hidup tubuhnya melulu dengan berpikir, dan dengan terus-menerus menulis surat cinta pada kekasih yang tak pernah ditemuinya, yang tak ia ketahui namanya, yang tak ia kenali wajahnya.
The Island of the Day Before dimulai di sebuah malam yang digantungi purnama di pertengahan abad 17, ketika Roberto terbangun dan memergoki dirinya terapung-apung di sisi sebuah kapal karam. Novel ketiga Umberto Eco ini kembali mengukuhkan reputasi pemikir kebudayaan berkebangsaan Italia itu sebagai salah satu penulis fiksi terbaik dunia. Kisah Roberto tak saja kembali memperlihatkan apa yang paling menyentuh dalam diri manusia: harapan yang abadi untuk membuat masuk akal segala hal muskil yang terjadi pada dirinya, dengan cara yang sepintas lalu kadang tidak masuk akal. Novel yang dikisahkan dengan kesadaran akan kemampuan narasi dan narator untuk mendistorsi kebenaran itu kembali menegaskan keluasan minat intelektual dan program ilmiah Eco yang terentang beraneka warna. Salah satu warna pokok tersebut, sejauh yang saya sanggup tangkap sekarang, adalah ini: seluruh karyanya, fiksi dan nonfiksi, dengan satu dan lain cara bergulat dengan bagaimana manusia mempersepsi dunia dan membentuk makna dengan bantuan kemampuan kognitif yang ditumbuhkan dari evolusi biologisnya, dan sumber-sumber linguistik yang ditumpuknya dari perjalanan sejarah dan kebudayaannya.
Sejarah
September 11, 2008
Insinyur Pembentuk Bangsa
The Arcades Project (Cambridge: Belknap/Harvard, 1999) karya Walter Benjamin yang terentang hampir 1000 halaman itu, disebut oleh beberapa pihak sebagai salah satu upaya terbesar di abad ke-20 dalam memahami “Sejarah”. Ada yang bahkan menyebut kitab cantik montok ini sebagai upaya terbesar di antara semua telaah atas salah satu pengertian paling fundamental dalam 2500 tahun perkembangan dunia; sebuah pengertian yang lahir bersama kesadaran akan hubungan antara manusia yang terbatas, dengan arus waktu yang tak-terbatas. Pengertian yang tumbuh menjadi begitu berpengaruh dalam membentuk kenyataan dunia dalam 3 abad terakhir.
Dengan mengambil banyak ilham dari berbagai sumber, terutama Marcel Proust dan Martin Heidegger, Rudolf Mrazek ― pakar sejarah modern Asia Tenggara, khususnya Indonesia, yang lahir di Ceko lalu hijrah ke Amerika ― melakukan upaya yang mirip kerja Benjamin. Upaya Mrazek ini tertuang dalam karya mutakhirnya yang kini sedang diindonesiakan, Engineers of Happy Land: Technology and Nationalism in A Colony (Princeton: Princeton University Press, 2002).









